10/21/2006
Hari Raya Bersama Rasulullah
Berikut ada link yang berisi
artikel tentang bagaimana petunjuk Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dalam merayakan hari raya dan juga hukum-hukum seputar hari raya.
http://almanhaj.or.id/index.php?action=view&cat_id=13
16:30 Posted in Dunia Islam | Permalink | Comments (1) | Email this
09/20/2006
Kiat-Kiat Menghidupkan Bulan Ramadhan
Sebentar lagi bulan ramadhan akan tiba.
Sudahkah kita mempersiapkannya dengan baik? berikut ada sedikit artikel yang berisi kiat-kiat untuk menghidupkan bulan ramadhan. Tentunya kita tidak ingin melewatkan bulan ramadhan ini dengan kesia-siaan bukan? Karena itu ada baiknya ikhwah sekalian membaca risalah ini.
Download artikel
03:05 Posted in Dunia Islam | Permalink | Comments (0) | Email this
09/10/2006
Wahai Ukhti Muslimah, Ketahuilah Hukum-hukum Agamamu!
Ini adalah sebuah nasihat bagi
para muslimah agar mereka lebih giat dalam tholabul 'ilmi syar'i. Sebab kewajiban menuntut ilmu bersifat umum, dikenakan bagi siapa saja baik pria maupun wanita. Sehingga tidak ada alasan untuk mengesampingkan kewajiban ini hanya karena dirinya seorang wanita. Semoga makalah ini dapat memberikan nasihat yang berharga bagi setiap muslimah untuk semakin giat dalam tholabul 'ilmi syar'i. Download artikel
10:20 Posted in Dunia Islam | Permalink | Comments (1) | Email this
Hukum Bisnis MLM
Merebaknya bisnis MLM
membuat saya bertanya-tanya bagaimana sebenarnya hukum bisnis yang semacam ini. MLM dengan berbagai macam bentuk dan sistem yang ditawarkan memang membuat sebagian besar masyarakat tertarik untuk mengikutinya. Dengan kemudahan dan keuntungan yang cukup menggiurkan MLM menjadi bisnis yang berkembang dengan pesat. Lihat saja salah satu bisnis MLM, yang hanya mensyaratkan kita untuk membayar uang 3,5 juta saja maka kita akan berkesempatan untuk mendapatkan mobil mewah ketika kita telah mencapai level tertentu. Tentunya ketika kita bekerja untuk mencari nafkah tidak serta merta menjadikan keuntungan sebagai satu-satunya acuan, tetapi ada aspek lain yang harus kita perhatikan yaitu aspek syariat. kita harus meninjau apakah sistem yang semacam ini dibenarkan dalam islam? percuma, apabila memperoleh keuntungan yang besar tetapi dengan cara-cara yang dilarang dalam islam. sebab hal itu tidak akan barokah, tidak akan membawa ketenangan dan kebahagiaan. Karena itu artikel ini berusaha untuk membahas mengenai praktik bisnis yang semacam ini. praktik bisnis MLM. downloadMulti_Level_Marketing.doc
10:19 Posted in Dunia Islam | Permalink | Comments (3) | Email this
07/02/2006
Berdakwah Melalui Sarana Cerpen
Ini adalah tanya jawab seputar masalah dakwah dan metodenya
di situs muslim.or.id
Penanya: Alaik
Dijawab Oleh: Ustadz Abu Saad, M.A.
Pertanyaan:
Assalammu’alaikum Wr Wb.
Ustadz yang dirahmati Allah, Ana mau tanya berhubungan dengan aktifitas dakwah yang selama ini ana dan kawan-kawan jalankan.
Apakah cerpen yang isinya dari kisah nyata, koran, cerita kawan, keluarga, konflik sosial, budaya dan lain-lain yang tetap mempunyai nilai-nilai religius termasuk cerita dusta? Bagaiman hukum dakwah yang menggunakan media cerpen tersebut? Karena melihat fenomena remaja sekarang, kalau dakwah kami langsung menggunakan artikel yang bahasanya baku dan kaku serta banyak ayat-ayat dan hadistnya, mereka akan malas membacanya. Salah satu alternatif yang kami pilih adalah menggunakan media cerpen yang bahasanya renyah, gaul, mudah dimengerti, meremaja, ringan dan sudah akrab dengan bacaan mereka. Kebetulan diantara kami ada beberapa yang mempunyai bakat dalam bidang sastra tersebut, sayang kalau disia-siakan, kan bisa mubadzir. Mohon penjelasanya. Syikron, Jazakillah khairon. Wassalammu’alaikum Wr. Wb.
Jawaban Ustadz:
Sebagaimana telah diketahui bahwasanya aktifitas dakwah merupakan ibadah yang agung dan juga Allah memerintahkan dan menganjurkannya bahkan menjadikan pelakunya orang yang paling baik ucapannya dan amalnya.
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri? (Al-Fushshilat: 33)
Maknanya:
Tidak ada seorang pun yang lebih baik ucapanya dari orang yang menyeru di jalan Allah, mengamalkan apa yang dia serukan dan terang-terangan mengatakan bahwasanya dia termasuk orang-orang yang berserah diri. Dan banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist Nabi shollallahu’alaihiwasallam yang menjelaskan tentang kewajiban berdakwah dan keutamaannya yang semua ini menunjukkan bahwa aktifitas dakwah adalah suatu ibadah yang agung. Maka sebagaimana yang ma’ruf di kalangan ahlul ilmi, suatu ibadah tidaklah diterima di sisi Allah kecuali terkumpul padanya dua syarat:
Syarat pertama:
Ikhlas karena Allah, dengan dalil firman-Nya, yang artinya:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (Al-Bayyinah : 5)
Dan syarat ke dua:
Sesuai dengan tuntunan dari Nabi shollallahu’alaihiwasallam, dengan dalil sabda Nabi shollallahu’alaihiwasallam yang artinya:
Barangsiapa beramal denga suatu yang yang tidak ada perintah dari kami maka amalan tersebut tertolak (HR Bukhori)
dan ini sesuai dengan makna dari firman Allah subhanahuwata’ala:
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (Al-Mulk : 2)
Yang ditafsirkan oleh Fudhail bin Iyadh makna yang lebih baik amalnya yaitu: yang lebih ikhlas dan lebih tepat dengan tuntunan Nabi. Maka beranjak dari sini, ketika kita memulai aktifitas dakwah haruslah kita bertanya, apakah dakwah kita ikhlas karena Allah atau sesuaikah dakwah kita dengan yang digariskan oleh Nabi kita shollallahu’alaihiwasallam, baik itu kaifiyyahnya, metodenya atau wasilahnya/medianya, tempat ini bukan tempat untuk berijtihad dengan mereka-reka kaifiyyah dakwah, metodenya ataupun medianya, harus sesuai dengan syariat dan tuntunannya, karena seluruh bagian dari agama kita telah sempurna tanpa memerlukan lagi tambahan ataupun pengurangan, sehingga dalam masalah kaifiyyah dakwah, metodenya ataupun medianya itu pun sudah jelas, tidak mungkin hal ini diserahkan kepada kita untuk mengada-ngadakannya atau membuat-buatnya, maka ana nasehatkan kepada al-akh untuk kembali mempelajari kitab-kitab para ulama’ yang menjelaskan tentang masalah ini secara mendetail seperti kitab karya Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkholi yang berjudul “Manhaj Dakwah Ilallah fihi Al-Hikmah wal Al-Aql” dan juga membekali dirinya dengan Ilmu-ilmu syar’i, karena ini merupakan bekal yang utama dan pertama bagi seorang da’i ilallah, kalau menghendaki dakwahnya menjadi dakwah yang benar di atas dasar Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman generasi salaful-ummah serta memberikan buah yang berbarokah dan diterima di sisi-Nya. Wallahu a’lam
12:54 Posted in Dunia Islam | Permalink | Comments (1) | Email this
05/01/2006
Asas Kebangkitan Dunia Islam
KATA PENGANTAR
Tulisan dibawah ini merupakan jawaban dari pertanyaan pernah yang dilontarkan kepada Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah di majalah Al-Ashalah, edisi 11, tgl. 15 Dzulhijjah 1414 H, dan pernah dimuat di majalah As-Sunnah edisi 13/II/1416 H. Kami mengangkatnya kembali di ML assunnah karena berhubungan dengan ilmu, tentunya dengan ijin dari penerjemah. 
ASAS KEBANGKITAN DUNIA ISLAM
Bentuk pertanyaan yang dilontarkan adalah sbb :
Pertanyaan.
Asas-asas apakah yang dapat menyebabkan Dunia Islam bangkit kembali .?
Jawab.
Yang saya yakini ialah apa yang terdapat dalam hadits shahih. Ia merupakan jawaban tegas terhadap pertanyaan semacam itu, yang mungkin di lontarkan pada masa sekarang ini. Hadits itu adalah sabda Rasulullah SAW.
Artinya :
"Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem 'iinah (seseorang menjual sesuatu kepada orang lain dengan pembayaran di belakang, tetapi sebelum si pembeli membayarnya si penjual telah membelinya kembali dengan harga murah -red), menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu dikuasai oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu sebelum kamu rujuk (kembali) kepada dien kamu". (Hadist Shahih riwayat Abu Dawud).
Jadi asasnya ialah RUJUK (kembali) kepada ISLAM.
Persoalan ini, telah diisyaratkan oleh Imam Malik rahimahullah dalam sebuah kalimat ma'tsur yang ditulis dengan tinta emas : "Barangsiapa mengada-adakan bid'ah di dalam Islam kemudian menganggap bid'ah itu baik, berarti ia telah menganggap Muhammad SAW menghianati risalah". Bacalah firman Allah Tabaraka wa Ta'ala.
Artinya :
"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan buatmu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu". (Al-Maaidah : 3).
"Oleh karenanya apa yang hari itu bukan agama, maka hari ini-pun bukan agama, dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini".
Kalimat terakhir (Imam Malik) di atas itulah yang berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan ini, yaitu pernyataannya :
"Dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini".
Oleh sebab itu, sebagaimana halnya orang Arab Jahiliyah dahulu tidak menjadi baik keadaannya kecuali setelah datangnya Nabi mereka, Muhammad SAW dengan membawa wahyu dari langit, yang telah menyebabkan kehidupan mereka di dunia berbahagia dan selamat dalam kehidupan akhirat. Demikian pula seyogyanya asas yang mesti dijadikan pijakan bagi kehidupan Islami nan membahagiakan di masa kini, yakni tiada lain hanyalah RUJUK (kembali) kepada Al-Kitab was Sunnah.
Hanya saja, masalahnya memerlukan sedikit penjelasan, sebab betapa banyak jama'ah serta golongan-golongan di "lapangan" mengaku bahwa mereka telah meletakkan sebuah manhaj yang memungkinkan dengannya terwujud masyarakat Islam dan terwujud pelaksanaan hukum berdasarkan Islam.
Sementara itu kita mengetahui dari Al-Kitab dan Sunnah Rasulullah SAW, bahwa jalan bagi terwujudnya itu semua hanya ada satu jalan, yaitu sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta'ala dalam firmannya.
"Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya". (Al-An'am : 153).
Dan sungguh Rasulullah SAW, telah menjelaskan makna ayat ini kepada para shahabatnya. Beliau pada suatu hari menggambarkan kepada para shahabat sebuah garis lurus di atas tanah, disusul dengan menggambar garis-garis pendek yang banyak di sisi-sisi garis lurus tadi.
Kemudian beliau SAW membacakan ayat di atas ketika menudingkan jari tangannya yang mulia ke atas garis yang lurus dan kemudian menunjuk garis-garis yang terdapat pada sisi-sisinya, beliau bersabda:
"Ini adalah jalan Allah, sedangkan jalan-jalan ini, pada setiap muara jalan-jalan tersebut ada syaithan yang menyeru kepadanya".
(Shahih sebagaimana terdapat di dalam "Zhilalul Jannah fi takhrij As-Sunnah : 16-17).
Allah 'Azza wa Jalla-pun menguatkan ayat beserta penjelasannya dari Rasulullah SAW dalam hadits di atas, dengan ayat lain, yaitu firman-Nya.
"Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas petunjuk (kebenaran) baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali". (An-Nisaa : 115)
Dalam ayat ini terdapat sebuah hikmah yang tegas, yakni bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mengikatkan "jalannya orang-orang mukmin" kepada apa yang telah di bawa oleh Rasulullah SAW. Hal inilah yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits iftiraq (perpecahan) ketika beliau ditanya tentang Al-Firqah An Najiyah (golongan yang selamat), saat itu beliau menjawab :
"(Yaitu) apa yang aku dan shahabatku hari ini ada di atasnya"
(lihat As-Silsilah Ash-Shahihah : 203)
Apakah gerangan hikmah yang di maksud ketika Allah menyebutkan "Jalannya orang-orang mukmin (Sabiilul mukminin)" dalam ayat tersebut.? Dan apakah kiranya hal yang dimaksud ketika Rasulullah SAW mengikatkan para shahabatnya kepada diri beliau sendiri dalam hadits di muka .? Jawabannya, bahwa para shahabat radliyallahu anhum itu adalah orang-orang yang telah menerima pelajaran dua wahyu (Al-Qur'an dan As-Sunnah) langsung dari Rasulullah SAW, beliau telah menjelaskannya langsung kepada mereka tanpa perantara, tidak sebagaimana keadaan orang-orang yang sesudahnya.
Tentu saja hasilnya adalah seperti yang pernah dikatakan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya :
"Sesungguhnya orang yang hadir akan dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang yang tidak hadir"
(Lihat Shahih Al-Jami' : 1641).
Oleh sebab itulah, iman para shahabat terdahulu lebih kuat daripada orang-orang yang datang sesudahnya. Ini pula telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits mutawatir :
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang sesudahnya, kemudian orang-orang yang sesudahnya lagi".
(Muttafaq 'alaihi).
Berdasarkan hal ini, seorang muslim tidak bisa berdiri sendiri dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah, tetapi ia harus meminta bantuan dalam memahami keduanya dengan kembali kepada para shahabat Nabi yang Mulia, orang-orang yang telah menerima pelajaran tentang keduanya langsung dari Rasulullah SAW yang terkadang menjelaskannya dengan perkataan, terkadang dengan perbuatan dan terkadang dengan taqrir (persetujuan) beliau.
Jika demikian, adalah mendesak sekali dalam "mengajak orang kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah" untuk menambahkan prinsip "berjalan di atas apa yang ditempuh oleh AS-SALAFU AS-SHALIH" dalam rangka mengamalkan ayat-ayat serta hadits-hadits yang telah disebutkan di muka, manakala Allah menyebutkan "Jalannya orang-orang mukmin (sabilul mu'minin)", dan menyebutkan Nabi-Nya yang mulia serta para shahabatnya dengan maksud supaya memahami Al-Kitab was Sunnah sesuai dengan apa yang dipahami oleh KAUM SALAF generasi pertama dari kalangan shahabat radliyallahu anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka secara ihsan.
Kemudian, dalam hal ini ada satu persoalan yang teramat penting namun dilupakan oleh banyak kalangan jama'ah serta hizb-hizb Islam. Persoalan itu ialah : "Jalan mana gerangan yang dapat digunakan untuk mengetahui apa yang ditempuh oleh para shahabat dalam memahami dan melaksanakan sunnah ini ..?".
Jawabannya : "Tiada jalan lain untuk menuju pemahaman itu kecuali harus RUJUK (kembali) kepada Ilmu Hadits, Ilmu Mushtalah Hadits, Ilmu Al-jarh wa At-Ta'dil dan mengamalkan kaidah-kaidah serta musthalah-musthalah-nya tersebut, sehingga para ulama dapat dengan mantap mengetahui mana yang shahih dari Nabi SAW dan mana yang tidak shahih".
Sebagai penutup jawaban, kami bisa mengatakan dengan bahasa yang lebih jelas kepada kaum muslimin yang betul-betul ingin kembali mendapatkan 'IZZAH (kehormatan), kejayaan dan hukum bagi Islam, yaitu anda harus bisa merealisasikan dua perkara :
Pertama :
Anda harus mengembalikan syari'at Islam ke dalam benak-benak kaum muslimin dalam keadaan bersih dari segenap unsur yang menyusup ke dalamnya, apa yang sebenarnya bukan berasal daripadanya, ketika Allah Tabaraka wa Ta'ala menurunkan firmannya :
"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu" (Al-Maaidah : 3).
Mengembalikan persoalan hari ini menjadi seperti persoalan zaman pertama dahulu, membutuhkan perjuangan ekstra keras dari para ulama kaum muslimin di pelbagai penjuru dunia.
Kedua :
Kerja keras yang terus menerus tanpa henti ini harus dibarengi dengan ilmu yang telah terbersihkan itu.
Pada hari kaum muslimin telah kembali memahami dien mereka sebagaimana yang dipahami para shahabat Rasulullah SAW, kemudian melaksanakan pengamalan ajaran Islam yang telah terbersihkan ini secara benar dalam semua segi kehidupan, maka pada hari itulah kaum mu'minin dapat bergembira merasakan kemenangan yang datangnya dari Allah.
Inilah yang bisa saya katakan dalam ketergesa-gesaan ini, dengan memohon kepada Allah agar Dia memberikan pemahaman Islam secara benar kepada kita dan seluruh kaum muslimin, sesuai dengan tuntunan kitab-Nya dan Sunnah Rasulullah SAW yang shahih sebagaimana yang telah ditempuh oleh SALAFUNA ASH-SHALIH.
Kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan taufiq kepada kita supaya dapat mengamalkan yang demikian itu, sesungguhnya Dia SAMI' (Maha Mendengar) lagi MUJIB (Maha Mengabulkan Do'a).
Wallahu 'alam.
dikutip dari Assunnah
17:38 Posted in Dunia Islam | Permalink | Comments (0) | Email this
Dekatnya Hari Kiamat
Oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil,
dikutip dari assunnah
Ayat Al-Qur'an dan hadits shahih menunjukkan telah dekatnya kiamat karena munculnya tanda-tanda kiamat itu menunjukkan dekatnya kiamat, dan kita berada pada hari (zaman) akhir dunia. Allah berfirman.
"Artinya : Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka. Sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)". (Al-Anbiya : 1)
Allah berfirman.
"Artinya : Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya". (Al-Ahzab : 63)
Allah berfirman.
"Artinya : Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi)". (Al-Ma'arij : 6-7)
Allah berfirman.
"Artinya : Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan". (Al-Qamar : 1)
Dan banyak ayat lainnya yang menunjukkan telah dekatnya hari kesudahan dunia untuk menuju ke negeri akhirat yang setiap manusia akan memperoleh hasil perbuatannya. Jika baik, maka dibalas baik, jika buruk maka dibalas buruk. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata. "Saya diutus dan hari kiamat, seperti dua perkara ini". Dan Nabi mengisyaratkan dua jari-jarinya dan memanjangkannya. 1) Dan Rasulullah bersabda, 'Saya diutus dalam permulaan kiamat'. 2) Dan Rasulullah bersabda, 'Ajal kalian itu antara Shalat Ashar dan terbenamnya matahari'. 3) Dari Ibnu Umar, ia berkata, 'Kami duduk di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan waktu itu matahari sudah tertutup gunung Quaiqi'an 4) setelah Ashar, Nabi bersabda, 'Tiadalah umur kalian dibandingkan dengan umur orang dahulu kecuali seperti sisa siang hari yang sudah lewat". 5)
Dan ini menunjukkan bahwa sisa tersebut termasuk sesuatu yang sedikit, tetapi ketentuannya tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah, dan tidak ada satu pun ketentuan waktu yang sah riwayatnya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang ma'shum. Akan tetapi waktu yang tersisa sangat sedikit dibandingkan dengan waktu (usia dunia) yang telah lewat. 6)
Dan tidak ada yang lebih jelas daripada sabdanya tentang telah dekatnya kiamat, "Saya diutus bersama dengan kiamat, sungguh dia hampir mendahuluiku". 7) Dan ini menunjukkan sangat dekatnya hari kiamat sehingga Nabi takut akan didahului kiamat.
Footnote:
1. Shahih Bukhari 11/3747.
2. Al-Albani berkata. "Hadits riwayat Daulabi", 1/23; dan Ibnu Mandah dalam Ma'rifah 2/234/2 dari Abu Hasyi, dari Abu Jabirah secara marfu', sanadnya shahih. Dan kesahabatan Abu Jabirah masih khilaf, tetapi Al-Hafizh dalam "Taqrib" menguatkan dia sebagai sahabat. Silsilah Hadits Shahih 2/367, hadist nomor 808, dan lihat 'Tahdzibut Tahdzib 12/52, dan Taqrib Tahdzib 2/405.
3. Shahih Bukhari 6/495.
4. Sebuah gunung di Makkah, Lihat An-Nihayah, Ibnu Atsir 3/88 dan Syarah Musnad Ahmad 8/176 Ahmad Syakir.
5. Musnad Ahmad 8/176 hadits nomor 5966 syarah Ahmad Syakir. Dia berkata, "Sanadnya shahih". Ibnu Katsir berkata, "Ini sanadnya Hasan". An-Nihayah 1/94. Ibnu Hajar berkata : "Hasan". Fathul-Bari 11/350.
6. An-Nihayah 1/195.
7. Musnad Ahmad 5/348 dan tarikh Al-Umam wa Al-Mukh 1/8 Ibnu Hajar berkata, hadits dikeluarkan Ahmad dan Thabari sanadnya Hasan, Fathul-Bari 11/348.
Disalin dari buku Asyratus Sa'ah, Pasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil, MA. edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 54-55, terbitan Pustaka Mantiq, Penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi.
17:25 Posted in Dunia Islam | Permalink | Comments (3) | Email this
04/27/2006
Jalan Berliku Menuju Kebenaran Yang Dirindu
Oleh : Ibnu Abdi Robbihi
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah.
Amma ba’du.
“Dan di bumi terdapat tanda-tanda kekusaaan Allah bagi orang-orang yang yakin, bahkan dalam dirimu sendiri terdapat tanda-tanda itu apakah engkau tidak memperhatikannya” (Adz Dzariyaat : 20-21).
Saudaraku, sejenak aku akan bercerita kepadamu sekilas perjalanan hidupku, semoga engkau bisa mengambil pelajaran darinya.
Masa kecil
Dahulu aku adalah seorang anak kecil yang memiliki hobi menggambar, mendengarkan musik dan menyaksikan film kartun. Aku memang bukan anak gaul yang suka main bersama teman-teman yang lain pergi kesana dan kemari.
Ketika menginjak usia SD, orangtuaku memasukkan aku di sekolah Muhammadiyah di sebuah dusun di dekat rumah kakekku. Menjelang usia SMP aku telah dididik oleh kakakku untuk membenci Amerika, yah tepatnya ketika itu terjadi perang teluk. Saat itu ketertarikanku kepada dunia politik mulai tumbuh, berita-berita radio BBC pun ikut terserap di telingaku. Memang ayahku adalah seorang anggota TNI Angkatan Udara, namun ayahku adalah orang yang kritis kepada perilaku pejabat pemerintahan. Secara tidak langsung hal itupun mendorongku untuk bersikap kritis pula terhadap pemerintahan. Walaupun begitu, bukan berarti dunia militer tidak menarik bagiku. Di usia SMP itu aku berkeinginan untuk menjadi tentara yang berjuang membela tanah air. Sehingga akupun turut serta mendaftarkan diri dalam seleksi calon siswa SMA Taruna. Dengan taqdir Alloh, alhamdulillah aku tidak diterima di sana. Setelah itu harapan untuk menjadi tentara menjadi sirna.
Allah Ta’ala berfirman, “Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Allahlah yang maha tahu sedangkan kalian tidak mengetahui” (Al Baqoroh : 216)
Masa remaja
Lulus SMP aku menuruti saran ayahku untuk memilih sebuah sekolah unggulan di kota kami, dan alhamdulillah aku lolos seleksi dan bisa diterima di situ mengikuti jejak kakakku. Ternyata di sana pun aku termasuk siswa yang dipilih untuk masuk dalam tim peleton inti yang hobinya baris-berbaris, maklumlah SMA kami adalah sekolah yang sudah berulang kali menggaet juara baris-berbaris.
Sampai di sini aku masih menyenangi isu-isu politik apalagi yang berbau Islam, sehingga ketertarikanku untuk ikut berdakwahpun muncul melalui pekerjaan yang aku sukai yaitu membuat dekorasi. Nah, di lingkungan rohis (kerohanian Islam) SMA inilah aku mulai berkenalan dengan teman-temanku yang begitu bersemangat mengaji, mereka sangat aktif mengikuti kajian salaf yang diadakan di sebuah masjid di dekat SMA kami. Aku salut dengan komitmen mereka yang tinggi untuk menegakkan sunnah Nabi, dengan memelihara jenggot walaupun cuma beberapa helai, dengan mengenakan celana panjang yang tidak melampaui mata kaki walaupun masih dilipat, dan dengan semangat berapi-api menghalangi terjadinya pacaran dan kholwatdi lingkungan sekolah kami.
Dan di situ pulalah aku mulai mengenal bahwa menggambar makhluk bernyawa itu dilarang, musik itu haram dan demokrasi itu buruk. Dengan taqdir Alloh, di kelas 2 SMA, aku mendapat bagian sebagai salah seorang pengurus harian OSIS di sekolah kami. Walaupun jika dilihat dari latar belakangnya sebenarnya pengalaman organisasiku tidak banyak.
Problematika dakwah di SMA
Menjelang akhir kepengurusan aku mulai menghadapi masalah yang cukup pelik, yaitu timbulnya perselisihan antara teman-teman kami dari kubu Rohis yang anti musik dengan sebagian aktifis OSIS yang pro musik. Hal itu semakin memuncak dengan adanya penyelenggaraan acara malam tutup buka tahun yang untuk menyambut siswa baru dan perpisahan kelas tiga yang sudah lulus, tentu saja acaranya sarat dengan musik, sehingga konflik ini pun terangkat ke forum guru bahkan kepala sekolah. Sementara aku berada di pihak yang serba salah, karena ketika itu aku adalah seorang sekretaris bidang I (Ketuhanan Yang Maha Esa) yang membawahi Rohis sekaligus sebagai salah seorang Steering Committee dari acara malam tutup buka tahun itu, konflik pun memanas, terjadilah aksi pembakaran dan perobekan tiket, bahkan hampir terjadi bentrok fisik di antara sesama siswa muslim, bahkan sampai terjadi ketegangan antara kubu Rohis dengan guru.
Disitulah aku merasakan betapa susahnya mengatasi permasalahan semacam ini. Bisakah anda bayangkan, musik yang sudah seolah-olah mendarah daging di sebagian besar kaum muslimin di negeri ini terutama di kalangan para pemuda harus berhadapan dengan fatwa haram yang disampaikan oleh para remaja yang masih baru mengaji ini, apalagi sikap mereka sangat keras dalam menolak acara semacam ini. Aku yang sangat miskin ilmu tentu bingung mencari solusi permasalahan ini. Sampai-sampai teman-teman yang anti musik itu seolah-olah menjadi musuh kami. Sehingga di ruang guru aku sempat sampaikan usul kepada pembina OSIS agar mendatangkan Ustadz yang mengajari anak-anak yang ‘ekstrim’ itu. Tapi usulku seperti angin lalu, akupun tidak habis pikir, bagaimana masalah ini selesai kalau akar permasalahannya tidak dipecahkan yaitu apakah musik itu benar-benar haram. Itulah pertanyaan besar yang tersisa di benakku, dan akhirnya dengan pertolongan Alloh membawaku bergabung dengan sahabat-sahabatku sesama pembenci musik.
Hidupku berubah, aku yang dulunya suka menggambar, suka musik dan menyenangi isu-isu demokrasi setelah masa-masa itu meninggalkan gambar, musik dan demokrasi.
Allah Ta’ala berfirman, “Tidaklah pantas bagi orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara ada bagi mereka pilihan yang lainnya dalam urusan mereka, dan barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sunguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata” (Al Ahzab : 36)
Saudaraku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik”
Beliau juga bersabda, “Kelak akan benar-benar ada beberapa kelompok manusia dari kalangan umatku yang berusaha menghalalkan kemaluan (zina), sutera, khamr dan al ma’aazif (alat-alat musik)” (HR. Bukhori).
Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya termasuk orang yang paling pedih adzabnya di hari kiamat nanti adalah para perupa/tukang gambar” (HR. Bukhori).
Imam Ahmad mengatakan, “Barangsiapa yang menolak hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam maka dia berada di tepi jurang kebinasaan”.
Saudaraku, Alloh Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang memutuskan hukum tidak dengan hukum yang diturunkan Allah maka mereka itulah orang-orang kafir” (Al Ma’idah : 44)
Tentu hadits-hadits dan ayat-ayat ini akan terasa sangat berat diterima oleh orang yang sudah bertahun-tahun dididik untuk menyukai musik, menggambar dan asyik dengan demokrasi. Tapi ketahuilah, kalau akidah anda masih bersih niscaya firman Allah dan sabda Rasul-Nya itulah yang justeru anda pilih dan anda pegang, bukan pendapat akal kebanyakan manusia.
Bukankah Allah Yang mahatahu telah berfirman, “Sungguh jika engkau mengikuti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (Al An’aam : 116).
Oleh karena itu daripada sibuk ngobrol atau nge-game mengapa anda tidak memilih untuk menghadiri majelis-majelis ilmu syar’i yang membimbing anda menuju kebahagiaan yang sejati dan bukan sementara, kenikmatan abadi di surga nanti ?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu syar’i niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim).
Imam Ahmad mengatakan, “Manusia itu lebih membutuhkan ilmu jauh lebih banyak daripada kebutuhannya terhadap makan dan minum, karena makan dan minum paling sekali atau dua kali saja dalam sehari, akan tetapi ilmu selalu dibutuhkan sepanjang tarikan nafas”.
Ingatlah saudaraku, waktu adalah pahala, kalau waktumu bisa kau habiskan berjam-jam untuk perkara dunia padahal dunia itu cuma sementara, kemudian untuk akhirat engkau sangat bakhil (kikir), sehingga sholatmu pun kilat laksana petir menyambar, mushaf Al Qur’an pun berdebu di atas rak jarang dibuka apalagi dibaca dan dipahami maknanya, majelis ilmu pun kau sia-siakan, sholat jama’ah pun kau tinggalkan, waktu pagi dan sore pun berlalu tanpa dzikir di lisan.
Allah Ta’ala berfirman, “Maka bersegeralah kembali menuju ketaatan kepada Allah” (Adz Dzariyat : 50).
Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang sudah dipersiapkannya untuk menghadapi hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui semua yang kamu kerjakan” (Al Hasyr : 18).
Tahun terakhir di bangku SMA
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kau sampai mereka mau merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (Ar Ra’d : 11).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah di antara rumah-rumah Allah (masjid) mereka membaca kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka kecuali pasti akan turun kepada mereka ketenangan, mereka akan diliputi kasih sayang, malaikat pun mengelilingi mereka dan Allah pun menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya” (HR. Muslim).
Setelah sekian lama aktif di baris berbaris, mendekorasi, mengurusi OSIS maka di tahun terakhir bangku SMA, Allah membukakan hatiku untuk menekuni kajian-kajian salaf yang ada di sekitar SMA kami, alhamdulillah sejak itulah ketenteraman dan kesejukan majelis ilmu mulai mewarnai kehidupanku, kesejukan yang belum pernah aku temukan sebelumnya, begitu indahnya mendengarkan untaian firman Allah dan sabda Rasul-Nya disertai nasehat dan bimbingan dari para ulama’, aku duduk di sebuah majelis dimana ustadz yang mengajarnya adalah Ustadz yang membina teman-temanku yang kebablasan tadi, akhirnya ustadz yang dulunya menjadi orang yang tidak aku senangi gara-gara musik itu kini menjadi orang yang kucintai karena Alloh -semoga Allah menjaga beliau- karena jasanya yang sangat besar membina dakwah salaf di sekolah kami walaupun itu dilakukannya dari luar pagar sekolah.
Setelah kejadian itu pula sahabat-sahabat kami pun meyadari kesalahan mereka yang terlalu keras dalam menyikapi persoalan musik ini, sehingga memunculkan konflik yang berkepanjangan di sekolah kami. Inilah akibat sikap yang tidak hikmah dalam mengingkari kemungkaran, dampak negatif yang kembali menyerang dakwah itu sendiri.
Allah Ta’ala berfirman, “Serulah (manusia) agar kembali kepada jalan Rabbmu dengan penuh hikmah serta nasehat yang baik, dan (bila perlu) berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik” (An Nahl : 125).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda : “Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu kecuali pasti menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali pasti menghancurkannya” (HR. Muslim).
Berpetualang mencari kebenaran
Disamping itu perlu aku sebutkan pula bahwa sebelumnya aku pernah pula tertarik mendengarkan pengajian padang bulan cak Nun dan acara kajian ala filsafat Damardjati, aku juga sempat menjadi pengagum Amien Rais yang menggerakkan reformasi dan bahkan bergabung dalam demonstrasi besar-besaran yang digalakkannya sehari sebelum lengsernya Pak Harto dari kursi Presiden.
Masih tersimpan dalam ingatanku, sebuah nyanyian sadis yang selalu menghiasi mulut para demonstran di sekitarku ketika itu, “Gantung, gantung Soeharto…” (semoga Allah mengampuni kesalahan beliau dan menjaganya) Wallohul musta’an, bukankah ucapan itu modelnya kaum takfiri (yang suka mengkafirkan orang karena dosa besar). Hari itu demo besar-besaran terjadi dimana-mana, demokrasi yang menuhankan pendapat mayoritas rakyat seolah-olah menjadi raja.
Allah berfirman, “Sungguh jika engkau mengikuti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (Al An’aam : 116).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak halal menumpahkan darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga alasan ; Seorang yang sudah beristeri berzina, seorang muslim yang membunuh saudaranya, atau seorang yang meninggalkan agamanya memisahkan diri dari jama’ah” (HR. Bukhari dan Muslim).
Selain itu aku juga pernah beberapakali merekam pengajian Aa’ Gym yang disetel di radio karena sangat tertarik dengan metode penyampaiannya yang menyentuh hati. Itu terjadi sebelum nama Aa’ Gym mencuat besar-besaran di televisi dan media masa lainnya. Semoga Allah mengembalikannya ke jalan yang lurus. Selain itu dunia sufi pernah mewarnai kehidupanku ketika para pemuda dari kampung kami diajak untuk ikut dzikiran dan pengajian di sebuah kampung santri Mlangi, yang di sekeliling mesjidnya full dengan kuburan yang diziarahi oleh para pengunjung dari berbagai daerah yang jauh. Sesudah itu pula aku pernah menggalakkan dzikir model sufi ini di masjid kampung kami dengan alasan untuk menghidupkan aktivitas agama bagi pemuda di mesjid, sehingga akhirnya akupun menyesal atas tindakanku yang hanya berdasar semangat saja dan miskin ilmu syar’i ini.
Memang hati adalah bagian terpenting dari amal lahiriyah kita, kalau hati baik maka seluruh amalan pun menjadi baik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ketahuilah di dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh anggota badan tapi jika dia rusak maka rusak pulalalah seluruh anggota badan ketahuilah segumpal daging itu adalah jantung” (HR. Muslim). Akan tetapi cara memanajemen hati agar baik bukanlah hasil rekaan sendiri, sebab Nabi juga diutus untuk mengajari ummatnya tentang bagaimana mensucikan hati.
Allah Ta’ala berfirman, “Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Kami, dan mensucikan (jiwa) kalian serta mengajarkan kepada kalian Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah) dan mengajarkan segala sesuatu yang dulu tidak kalian ketahui” (Al Baqoroh : 151).
Imam Ibnu Katsir mengatakan mengenai firman Allah, “Dan mensucikan kalian” yaitu membersihkan kalian dari akhlaq yang rendah, jiwa yang kotor dan perbuatan-perbuatan jahiliyah..” (Tafsir Ibnu Katsir jilid 1). Syaikh As Sa’di mengatakan dalam tafsirnya terhadap firman Allah “Dan mensucikan kalian” yaitu membersihkan akhlak dan jiwa kalian dengan membimbingnya dengan akhlak yang indah dan membersihkannya dari akhlak-akhlak yang rendah, hal itu dilakukan dengan membersihkan mereka dari kotoran syirik menuju tauhid, membersihkan diri dari riya’ menuju ikhlash, dari dusta menjadi jujur, dari khianat menjadi amanat, dari sombong menjadi tawadhu’, dari akhlak yang jelek menjadi berakhlak baik…” (Taisir Karim Ar Rahman).
Kita tidak boleh mensucikan jiwa dengan cara-cara bid’ah yang dibenci oleh agama. Rasul bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami maka tertolak” (HR. Muslim).
Tidakkah kita ingat kisah Abdullah bin Mas’ud rodhiallahu’anhu yang menjumpai sekumpulan orang yang berdzikir dengan berjama’ah, salah seorang memimpin dan yang lainnya mengikutinya, karena mereka mengerjakan sesuatu yang baru dalam agama maka Abdullah bin Mas’ud pun menegur mereka dengan keras. Tapi mereka mengelak dengan alasan “Wahai Abu Abdirrahman, tidaklah kami bermaksud kecuali kebaikan” Maka Ibnu Mas’ud pun menjawab, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja manusia paling mulia yang pernah ada di muka bumi ini melarang kuburannya dijadikan sebagai tempat perayaan yang dikunjungi atau sebagai tempat beribadah, apalagi kuburan orang selain beliau !.
Nabi berdo’a, “Ya Allah, janganlah jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah, sungguh besar murka Allah kepada kaum yang menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat beribadah” (HR. Malik dan lain-lain).
Pemikiran Hizbut Tahrir juga sempat menarik perhatianku, sehingga aku sempat membaca sebuah buku karya Abdul Qodim Zallum yang berjudul Demokrasi Sistem Kufur yang dipinjamkan seorang teman kepadaku ketika mengikuti acara pembekalan menjelang UMPTN di sebuah Masjid terkenal di Kotabaru, memang semangat mendirikan khilafah adalah sesuatu yang paling menarik bagiku dari gerakan ini, namun itu tidak mengendap lama karena keyakinanku tentang kebenaran manhaj ahlus sunnah sudah mulai kuat. Bagaimana mungkin negara Islam tegak jika kaum muslimin saja masih berpecah belah cara hidupnya, bahkan jauh dari nilai-nilai agama.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (Ar Ra’d : 11). Di dalam ayat ini Allah tidak mengatakan ..sampai mereka merubah apa yang ada pada diri para pemimpin pemerintahan mereka.. tentu saja Allah lebih tahu dan lebih bijaksana.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika kalian berjualbeli dengan cara ‘inah (salah satu jenis riba), dan kalian pegang ekor-ekor sapi, kalian senang dengan tanaman-tanaman kalian, lantas kalian pun meninggalkan jihad, maka Allah pasti akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Allah tidak akan mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian” (HR. Abu Dawud, Silsilah Ash Shohihah karya Syaikh Al Albani hadits no 11).
Bersentuhan dengan lingkungan kampus
Begitulah hari demi hari kulalui dengan pencarian terhadap nilai-nilai kebenaran yang hakiki, sampai UMPTN pun berlalu dan aku sudah duduk di bangku kuliah.
Di lingkungan baru ini aku berusaha mencari tempat-tempat kajian yang bisa aku ikuti, pengajian yang diadakan orang-orang Ikhwanul Muslimin (IM) pun pernah aku datangi, tapi sayang ilmu syar’i sangat minim kudapatkan di sana, karena yang ada adalah semangat pergerakan yang sarat dengan muatan politis dan kekuasaan. Tidak berhenti di situ, Risalah Pergerakan Hasan Al Banna pun sempat aku baca dan aku kaji, walaupun sedikit banyak aku sudah tahu penyimpangan yang ada pada beliau. Demikian pula buku Yusuf Al Qaradhawi yang ada di perpustakaan fakultas kami aku baca dan aku bandingkan dengan kritikan ulama Ahlu Sunnah yang diarahkan kepada beliau, dan memang ternyata Syaikh Yusuf Al Qaradhawi memiliki pendapat-pendapat yang amat menyimpang dalam bukunya Ash Shohwah Al Islamiyah bainal ikhtilaf al masyru’ wa tafarruq al madzmum (yang diterjemahkan oleh Robbani Press dengan prinsip-prinsip Gerakan Islam) terutama yang berkaitan dengan masalah hadits perpecahan ummat. Suatu saat seorang aktifis IM ketika berdialog dengan seorang ikhwan pernah ditanyakan mengenai pembelaannya terhadap Yusuf Qaradhawi, apakah dia pernah membaca bukunya Yusuf Qaradhawi yang itu, maka dia menjawab belum pernah ??. Allohu akbar (dalam hati saya saya bertanya-tanya lalu darimana dia bisa membela pemikiran Yusuf Al Qaradhawi sementara bukunya saja belum pernah baca). Memang perdebatan dengan orang-orang yang keras kepala adalah perbuatan membuang-buang energi.
Saudaraku, ketahuilah jalan kebenaran cuma satu, Allah Ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus maka ikutilah dia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya, itulah yang diwasiatkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa” (Al An’aam : 153)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya agama ini akan berpecah menjadi 73 golongan, 72 di neraka dan satu di surga yaitu al jama’ah” (HR. Abu Dawud), dalam riwayat lain beliau ditanya siapakah yang selamat itu ? maka beliau menjawab, “yaitu yang beragama sebagaimana aku dan para sahabatku pada hari ini”. Inilah manhaj salaf (cara beragamanya kaum salaf), manhajnya para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in serta para imam yang empat.
Imam Malik mengatakan, “Tidak ada yang mampu memperbaiki keadaan generasi akhir dari umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya”
Dakwah salafiyah versus dakwah hizbiyyah
Sekarang alhamdulillah, perkembangan dakwah salaf di lingkungan kampus kami cukup bagus walaupun bila dilihat dari kuantitas mungkin masih relatif kecil. Dakwah Ikhwanul Muslimin pun (yang sekarang lebih ngetrend dengan nama Tarbiyah) sebenarnya sudah tidak diminati kecuali oleh orang-orang yang hobinya berpolitik dan demonstrasi, serta kalangan akhwat yang terlalu mengedepankan perasaan. Orang yang bijak pasti bisa menilai bahwa dakwah salafiyah merupakan dakwah terbaik, dan satu-satunya jalan keselamatan dari perpecahan di dunia dan kebinasaan di akhirat. Kami tidak perlu repot-repot membawakan bukti karena masih ada saksi hidup tokoh-tokoh mantan aktifis yang pernah berkecimpung dalam pergerakan yang kini sudah insaf dan menemukan jalan kembali, yaitu manhaj salaf yang mulia ini.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah petunjuk jelas baginya, dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang yang beriman Kami akan biarkan dia leluasa dalam kessatannya dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali” (An Nisaa’ : 115).
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya, Allah telah memepersiapkan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar” (At Taubah : 100).
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku niscaya di akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah dengan sunnah(jalan hidup)ku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang bertpetunjuk gigitlah sunnah itu dengn gigi geraham, serta jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dansetiap bid’ah itu sesat” (HR. Abu Dawud dan lain-lain).
Biarlah mereka yang tidak percaya dengan kenyataan ini merasakan betapa susahnya menempuh kejayaan yang mereka cita-citakan dengan terjun di parlemen, dengan gerakan rahasia menghasut massa, memompa semangat para pemuda untuk menggulingkan penguasa dengan cara mereka atau menyibukkan mereka dengan dzikir-dzikir bid’ah dan pemikiran-pemikiran liberal, atau yang menyibukkan para pemuda yang tidak becus berpakaian dengan politik internasional, karena cepat atau lambat mereka akan merasakan pahitnya buah kesesatannya sendiri, sebagaimana yang dikatakan oleh Ar Razi setelah menyadari kekeliruannya yang sekian lama bergelut dengan ilmu kalam, “Barangsiapa menempuh cara sebagaimana apa yang pernah aku tempuh niscaya merasakan apa yang sudah aku rasakan”.
Namun kami akan mengingatkan disini, bahwa kematian pasti datang dan anda tidak tahu kapan malaikat maut datang, seandainya Allah masih memberikan umur bagi anda untuk bertaubat dari manhaj yang menyimpang maka bersyukurlah, tapi jika ternyata malaikat maut menjemput sementara anda belum bisa menikmati indahnya manhaj salaf, maka janganlah mencela kecuali diri anda sendiri.
Allah Ta’ala berfirman, “Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yangberiman, beramal shalih, saling mewasiatkan dalam kebenaran dan saling mewasiatkan dalam kesabaran” (Al ‘Ashr : 1-3).
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya, Allah telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar” (At Taubah : 100).
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke surga maka sungguh dia telah menang, dan tidaklah kehidupan dunia itu kecuali hanya sekedar kesenangan yang menipu” (Ali Imran : 185).
Dikutip dari muslim.or.id
13:45 Posted in Dunia Islam | Permalink | Comments (2) | Email this
04/20/2006
YAHUDI AKAN TERBASMI, INSYA ALLAH [HADITS TENTANG PERANG MELAWAN YAHUDI]
Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari
Diantara hal yang membuat hati kaum Mukminin tenteram dan karenanya mereka semakin yakin ialah ; bahwa negeri yang menjadi tempat berkumpulnya bebagai macam suku Yahudi Dunia, yang kemudian secara zalim dan bathil dinamakan negara Israel, adalah negara yang akan musnah dan terhapus dari muka bumi. Saya tidak katakan tanggal sekian dan tanggal sekian seperti yang dilakukan secara tidak benar oleh sebagian orang yang memiliki semangat menggebu.
Bisa jadi waktunya akan datang sebelum ramalan mereka jatuh tempo, dan itu tidak sulit bagi Allah. Ya, bisa jadi (waktunya akan datang) jauh sebelum itu.
"Artinya : Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabb-mu kecuali Dia" [Al-Muddatstsir : 31]
Tidak ada yang mengetahui kecuali Dia Yang Maha Tahu dan Maha Waspada.
Karena itulah ada tokoh politik (Muslim) kontemporer yang mengatakan :"Sesungguhnya perdamaian kita bersama Yahudi hanya semata-mata perdamaian politis, bukan keyakinan".
Sesunguhnya ada beberapa riwayat hadits Nabi yang shahih dan tegas, bahwa petempuran besar (melawan bangsa Yahudi-pen) akan terjadi, pasti. Dan bahwa kalimat Tauhid pasti akan mengalahkan orang-orang Yahudi tersebut, baik majikan-majikan maupun budak-budaknya (para pemimpinnya maupun pengikut-pengikutnya -pen).
Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Kalian akan memerangi bangsa Yahudi sampai seseorang di antara mereka bersembunyi di belakang batu. Maka batu itu berkata : Wahai hamba Allah, ini di belakangku ada Yahudi, bunuhlah !".
Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Tidak akan terjadi hari kiamat sebelum kaum Muslimin memerangi orang-orang Yahudi. Kemudian kaum Muslimin membunuh mereka sampai orang Yahudi bersembunyi di belakang batu atau pohon. Maka batu -atau- pohon itu berkata : Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ini di belakangku ada Yahudi, kemarilah lalu bunuhlah. Kecuali pohon Gharqad (sebuah pohon berduri yang dikenal dikalangan bangsa Yahudi), sesungguhnya Gharqad itu adalah salah satu pohon bangsa Yahudi".
Dua riwayat di atas adalah riwayat paling kuat dan paling shahih yang di satu sisi menjelaskan pasti dan benar-benarnya kejadian perang melawan Yahudi, sedangkan di sisi lain menjelaskan tentang yakin (pasti)nya kemenangan di tangan kaum Muslimin.
Riwayat tersebut -segala puji bagi Allah, dan dengan taufiq-Nya amat sangat jelas, jelas dan jelas. Tidak perlu komentar dan tidak membutuhkan keterangan.
Dalam dua nash di atas terdapat berbagai pentunjuk manhaji (bersifat manhaj/bersifat ajaran), yang paling menonjol di antaranya adalah dua hal :
Pertama.
Berkaitan dengan awalnya, yaitu perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para sahabat :"Kalian pasti akan memerangi (orang Yahudi). Sabda ini memberi petunjuk yang tegas bahwa masa depan hanya untuk Islam saja -bi idznillah-, akan tetapi tentu Islam yang sesuai dengan manhaj Salaf. [Lihat : Basha'ir Dzawisy Syaraf Bisyarhi Marwiyyaati Manhajis Salaf, karya Syaikh Salim al-Hilali hal. 151-165].
Kedua.
Berkaitan dengan akhirnya, yaitu sabda Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam ketika menceritakan perkataan pohon atau batu : "Wahai Muslim, wahai hamba Allah!". Kisah ini menunjukkan bahwa manhaj Tarbawi Ishlahi (pola pendidikan yang bertujuan perbaikan) yang tegak berdasarkan realisasi tauhid dan peribadatan adalah betul-betul memiliki kesiapan untuk menegakkan syari'at Allah di muka bumi dan untuk memulai kehidupan baru dengan kehidupan Islami yang sesuai dengan pola kenabian. [Lihat pula : Madaarij al-Ubudiyah min Hadyi Khairil Bariyyah karya Syaikh Salim al-Hilali hal. 145-153].
Di sana ada riwayat lemah -dari berbagai periwayatan- yang tersebar di tengah-tengah masyarakat dan bergulir di kalangan orang-orang khusus dan orang-orang awam, yang wajib diungkap dan dijelaskan (yaitu) :
Riwayat Ibnu Sa'd dalam "Tahabaqat"nya VII/422, Al-Bazzar dalam "Musnad"nya IV/138, Az-Zawaid, Ibnu Abi Ashim dalam "Al-Ahad wa Al-Matsani" 2458, dan lain-lain, dari Nahik bin Shuraim As-Sakuni, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Musyrikin sampai akhirnya sisa-sisa (pasukan) kalian akan memerangi Dajjal di sekitar sungai di Urdun (Yordan), kalian di sebelah timurnya dan mereka di sebelah baratnya".
Perawinya berkata : Saya tidak tahu di bumi sebelah manakah Urdun (Yordan) pada waktu itu.
Hadits ini sanadnya dha'if, di dalamnya terdapat Muhammad bin Aban Al-Qurasyi. Abu Dawud, Ibnu Ma'in, Al-Bukhari dan imam-imam lain mendha'ifkan (melemahkan)nya.
Guru kami, 'Allamah, Imam, lautan ilmu, Syaikh Abu Abdir Rahman Muhammad Nashiruddin Al-Albani -semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya- telah mengeluarkan hadits tersebut secara rinci dalam kitab karyanya yang mengagumkan : Silsilah Al-Hadits Adh-Dha'ifah III/460-461. Beliau menjelaskan kelemahan hadits itu, kemudian beliau Rahimahulah berkata :
"Saya tulis hadits ini setelah banyak pertanyaan mengenainya, bertepatan dengan pendudukan bangsa Yahudi di tepi barat Yordania pada awal bulan Haziran (Juni) tahun 1967M. Semoga Allah menghinakan dan merendahkan mereka serta membersihkan negeri ini dari mereka dan dari pendukung-pendukungnya".
Saya (Syaikh Ali Hasan) berkata : Saya aminkan do'a beliau Rahimahullah di atas, sambil saya jelaskan bahwa sebab penulisan makalah ini adalah karena pembantaian, pengusiran serta perusakan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi semenjak kurang labih tiga bulan yang lalu (dihitung sejak majalah Al-Ashalah edisi ini terbit yaitu Syawal 1421H) terhadap saudara-saudara kita kaum Muslimin di Palestina yang terjajah. Hanya Allah-lah yang dapat memberikan pertolongan.
Penutup dari Penerjemah
Demikianlah, insya Allah jika kaum Muslimin telah kembali kepada agamanya secara sungguh-sungguh, maka saat itulah negara Yahudi akan lenyap dari permukaan bumi. Sebelumnya akan di awali dengan pertempuran habis-habisan seperti diterangkan dalam dua hadits shahih di atas. Kita senantiasa memohon taufiq dan pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla.
[Makalah ini diterjemahkan secara bebas oleh Ahmas Faiz Asifuddin dari majalah al-Ashalah edisi 30/Th.V/15 Syawal 1421H. Majalah As-Sunnah edisi 08/Tahun V/1422H/2001M hal. 21-22.]
14:49 Posted in Dunia Islam | Permalink | Comments (4) | Email this
SIKAP ATAS PENERBITAN KARIKATUR NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Pertanyaan
Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu Nashr ditanya : Berkaitan dengan pelecehan terhadap umat Islam (berupa gambar karikatur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang terjadi di Denmark, apa sikap kita sebagai kaum Muslimin terhadap hal ini ? Apakah kita boleh berdemonstrasi dan memboikot produk-produk Denmark ?
Jawaban
Apa yang telah terjadi di Denmark, (yaitu) berupa olok-olok dan pelecehan terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggambarkannya dengan sesuatu yang tidak layak dengan kedudukan nabi siapapun, terlebih lagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak diragukan lagi, hal ini menunjukkan sikap emosional mereka (orang-orang kafir) terhadap Islam, mencerminkan kebencian yang tersembunyi di dalam dada-dada mereka.
Mereka tidak hanya ingin memerangi sebagian kaum muslimin yang ghuluw (keras dan berlebih-lebihan), yang memiliki sifat mudah mengkafirkan, akan tetapi, sesungguhnya yang ingin mereka perangi dan musnahkan adalah Islam itu sendiri, tidak lain lagi!.
Bukti yang menunjukkan hal itu ialah, mereka telah menentang Al-Qur’an. Bahkan mereka mengancam akan membakar Al-Qur’an di tengah-tengah publik. Dan akhirnya merekapun menggambar karikatur Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat buruk. Kemudian diikuti Negara-negara lainnya –karena memang mereka sama-sama kafir-, diikuti pula oleh media cetak (koran-koran) Norwegia, Perancis, Jerman, Spanyol dan Italia. Bahkana ada seorang dari mereka yang pergi menemui Paus dan memprovokasinya untuk mengulangi kembali perang salib (melawan kaum muslimin).
Ini menunjukkan secara jelas semangat salibisme yang tertanam kuat di dalam jiwa mereka, untuk senantiasa membenci dan memerangi Islam dan Nabi (umat) Islam. Kita tidak perlu merasa heran dan aneh terhadap ulah mereka.
Namun yang sangat kita sesalkan, ternyata karikatur Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam didapati juga di sebagian koran-koran di negara-negara Islam. Bahkan ada di salah satu koran negara Arab, menggambarkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa seekor ayam jantan yang dikelilingi oleh sembilan ayam betina, seraya mereka berkata : ‘Inilah Tuan Muhammad yang memiliki sembilan istri’. Mereka melecehkan dan memperolok-olok Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi w asallam. Ini terjadi di negara Arab!.
Jadi, inilah problemnya. Pelecehan agama semacam ini harus disikapi dengan tegas, kuat dan keras. Orang-orang yang melecehkan dan mengolok-olok agama Islam, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Al-Qur’an harus disikapi dengan seperti ini. Karena semua ini sangat terjaga dan dihormati dalam Islam. Agama Islam adalah agama yang tidak boleh diperolok-olokan dan dipermainkan. Seseorang tidak boleh (melecehkan dan memperolok-olok agama Islam, -pent) dengan dalih kebebasan berpikir dan berpendapat. Lalu kemudian ia bebas berkata : ‘Saya bebas beropini dan berpandangan, saya bebas berbicara tentang Dzat Allah, Al-Qur’an dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ini hak saya dalam kebebasan berpikir”.
Sementara jika orang-orang Yahudi membantai dan membunuh kaum muslimin, mereka hanya terdiam saja dan tidak berbicara sedikitpun tentang kebebasan beropini dan berpikir. Karena (mereka sama dengan Yahudi dalam hal memerangi dan membenci Islam dan kaum muslimin, dan karena) orang-orang Yahudi ( di mata mereka) memiliki hak-hak begitu tinggi, dan kehormatan mereka terlindungi begitu kuat.
Sedangkan kaum muslimin, karena kelemahan mereka, karena negara-negara besar (yang kafir,-pent) mengepung dan menjajah kaum muslimin dari segala penjuru dan dalam segala sisi kehidupan, dan karena berpecah belahnya kaum muslimin, serta jauhnya mereka dari ajaran agama Islam yang benar, (sehingga) mereka orang-orang bodoh dan dungu itu, menjadi berani kepada kaum muslimin. Maka, kewajiban kaum muslimin adalah bersatu membela Rasulullah, bersatu membela Kitabullah. Selama Rabb mereka satu, nabi mereka satu, Al-Qur’an mereka satu, kiblat mereka satu, selama mereka semua berkata laa ilaaha illallah wa anna muhammadan rasulullah, maka wajib bagi kaum muslimin untuk bersatu di dunia ini. Wajib memiliki sikap yang satu. (Yaitu) memboikot negara-negara kafir tersebut, dan kita sudah mengakui keampuhan senjata pemboikotan ini. Dan hendaknya para ulama menganjurkan para pemimpin negara-negara Islam, tokoh-tokoh Islam dan para bisnisman muslim, serta para cendekiawan muslim, dan para anggota parlemen muslim agar mengambil sikap tegas, membuat pernyataan pemboikotan, mencabut para duta besar, dan menampakkan kemarahan kaum muslimin terhadap mereka atas pelecehan ini. Juga mengirimkan pengaduan-pengaduan kepada kedutaan-kedutaan mereka (yang ada di negara-negara Islam, -pent), namun ini tanpa diiringi dengan pengerahan massa, tanpa aksi-aksi perusakan gereja-gereja, karena ini perbuatan tidak bermoral dan terlarang. Juga sebagaimana telah kami jelaskan, bahwa kedutaan-keduataan ini adalah musta’man. Mereka (orang-orang yang mendapat perlindungan keamanan) masuk ke dalam negara-negara Islam dengan ijin kepala negara tersebut, sehingga tidak boleh di langgar hak-haknya, (misalnya) dengan cara memerangi dan memberantas atau merusak kedutaan-kedutaan, restoran-restoran mereka, atase-atase mereka, gereja-gereja. Ini semua dilarang dalam Islam.
Bahkan saya tidak berpandangan bolehnya membakar bendera mereka. Kita (bisa saja) membakar bendera mereka yang bergambar salib, namun (nanti) mereka akan membakar bendera yang bertuliskan La illaha illallah Muhamma Rasulullah, atau akan menginjak-injaknya dengan kaki-kaki mereka, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampui batas tanpa pengetauan” [Al-An’am : 108]
Jadi, hal itu tidak boleh. Karena menolak kerusakan lebih diutamakan dari mengambil kemaslahatan.
Ya, (kita) boleh mengajukan pengaduan-pengaduan kepada kedutaan-kedutaan mereka, mengajukan (ancaman-ancaman), pemboikotan, pemutusan hubungan antar negara, memperketat peredaran media-media massa mereka. Kita terjemahkan sejarah hidup Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar ke dalam bahasa mereka. Kita meminta mereka agar segera mengumumkan permohonan maaf secara resmi dan terang-terangan kepada kaum muslimin. Kita juga meminta mereka agar kaum muslimin diberi kebebasan berbicara dalam menjelaskan dan memperkenalkan hakikat agama Islam yang sesungguhnya. Dan masih banyak lagi cara-cara bagi kaum muslimin dalam rangka membela Islam dan membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tapi, seperti yang tadi saya katakan, sesungguhnya hal yang membuat mereka berani melakukan semua ini adalah kelemahan kita, jauhnya kita dari agama, dan berpecah belahnya kita. Dan –amat disayangkan- kita tidak memiliki sikap tegas (dalam masalah ini).
Sebagai permisalan, seekor gajah betapapun besarnya, namun jika ia dikepung oleh sekawanan singa, ia akan berhasil dijatuhkan. Sedangkan satu ekor singa tidak mungkin melakukan itu. Jadi, betapapun besarnya gajah, ia akan tetap takut dan mundur jika menghadapi sekawanan singa. Namun, jika gajah itu berkumpul pula bersama gajah-gajah yang lainnya, pastilah kelompok gajah tersebut akan membuat sekawanan singa kabur, atau bahkan sekelompok gajah tersebut mampu membunuh sekawanan singa itu.
Begitulah kenyataannya ! Umat Islam (banyak jumlahnya), lima puluh empat negara. Tapi mereka berpecah belah, bercerai berai. Seharusnya, mereka bersatu dan berdiri di atas kalimat dan prinsip yang sama.
(Lihatlah) Eropa sekarang seakan-akan bersatu, bersatu melawan siapa ? Melawan Islam! Inilah masa depan yang mereka prediksikan. Permulaannya telah muncul jelas dari perbuatan mereka sekarang. Perbuatan-perbuatan yang mencerminkan semangat salibisme dan permusuhan mereka (terhadap Islam dan kaum muslimin). Maka wajib bagi kaum muslimin untuk bersatu.
Kaum muslimin memiliki banyak potensi dan sumberdaya. Kaum muslimin memiliki minyak bumi, pelabuhan-pelabuhan strategis di dunia, perekenomian, simpanan kekayaan di bank-bank negara-negara barat, perdagangan eksport-import. Semua ini adalah senjata ampuh yang wajib digunakan oleh kaum muslimin. Namun senjata yang paling ampuh dan terbesar untuk mengalahkan orang-orang kafir yang melecehkan agama kita, yaitu kita kembali kepada ajaran agama kita, berhukum dengan syariat nabi kita di dalam masyarakat kita. Inilah kekuatan terbesar !
Kita praktekkan aturan-aturan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita terapkan hukum-hukumnya. Kita kembali kepada Islam, kepada Al-Qur’an. Kita realisasikan syariat Allah. Dan hendaknya para da’i dan ulama berpura-pura lupa, -saya tidak mengatakan melupakan, akan tetapai berpura-pura lupa- dengan segala perselisihan [1] yang ada. Hendaknya mereka bersatu di atas satu kalimat dan prinsip. Hendaknya mereka memiliki satu sikap mulia, yang dengannya bersatu dalam memenangkan agama ini, membela Nabi, dan Al-Qur’an. Inilah jawaban saya terhadap pertanyaan tersebut.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/1426. Diambil dari Muhadharah Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu An-Nashr di Masjid Al-Karim, Pabelan, Surakarta, Ahad 19 Februari 2006]
_________
Foote Note
[1]. Perselisihan yang beliau maksud di sini tentunya adalah perselisihan yang dibolehkan, seperti masalah furu’ (cabang/fikih) dan bukan perselisihan masalah aqidah atau manhaj ,-pent
dikutip dari www.almanhaj.or.id
14:44 Posted in Dunia Islam | Permalink | Comments (0) | Email this